Friday, March 22, 2019

Maaf yang tak Tersampaikan


Malam yang tak kunjung berakhir ia lalui dengan penuh penyesalan setelah apa yang baru menimpanya, wajahnya basah oleh air mata, pikirannya dipenuhi oleh bayangan-bayangan kesalahan yang telah ia perbuat. Ia duduk di tengah-tengah trotoar yang jalannya sepi oleh kendaraan, menyesali semua kesalahannya.

****

Siang yang terik, matahari seakan tak dapat diajak kompromi. Seorang anak muda bernama Romi berjalan di jalur Busway yang kebetulan tidak ada kendaraan yang lewat di situ. Ia memegang sebuah tas berukuran kecil berwarna cokelat yang bukan miliknya. Perasaan gembira terukir di wajahnya yang penuh dosa, karena aksinya kali ini berhasil, biasanya aksinya selalu digagalkan teman dekatnya yang selalu menasihatinya agar berhenti mencopet. Tapi ia tetap melakukannya dengan alasan untuk mengurangi beban keluarganya yang hidupnya pas-pasan.

Romi berhenti di sebuah warung kecil tempat jualan makanan kecil, dan duduk di sebuah bangku kecil, dan memesan minuman kecil untuk melepaskan dahaga setelah melakukan aksinya yang melelahkan. Selesai minum, ia  pergi ke tempat biasanya ia nongkrong yang jarang dilalui orang. Ia mengeluarkan isi tas hasil copetannya dan mengambil uang di dalamnya, beberapa lembar uang berwarna merah cerah bergambarkan Soekarno dan Hatta. Ia hitung uang itu dan mulai tertawa sendiri. Dan terlihat Toni temannya yang selalu menggagalkan aksinya berdiri di kejauhan semakin mendekat dan menghampiri Romi.

“Nyopet lagi, lu..?” tanya Toni heran setelah melihat beberapa uang di tangan Romi.
“Nggak... gua gak nyopet..”
“Terus... dari mana tuh duit?”
“Gua minta ama emak gua, gua kan punya ma’, gak kayak lu..” jawab Romi menyindir Toni yang ibunya sudah meninggal.

Toni melirik ke sekitar, mencari-cari sesuatu. Dan matanya menatap tajam pada sebuah tas yang ada di samping Romi.

“Nah.. itu tas siapa kalo lu emang gak nyopet?” tanya Toni selidik.
“Mungkin milik seseorang tertinggal” jawab Romi santai.
“Nah.. ini KTP ma’ lu, Rom” bentak Toni setelah membuka isi tasnya.
“Mungkin pemilik tas itu minjem KTP ma’ gua”
“Ini juga ada.....”
“Aaagrkh.... kenapa sih lu kok ikut ngurus-ngurus gua...?!, gua ini juga butuh duit untuk makan, bukan cuma ma’ gua yang butuh” teriak Romi saat Toni belum selesai menanyakan pemilik sebuah SIM.
“Hey.. gua kan cuma pengen lu itu berubah, jadilah Romi yang dulu, patuh pada perintah orang tua, tidak pernah membentak, dan selalu menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Lu ingat gak, waktu masih kecil waktu gua belajar naik sepeda menggunakan sepeda lu, dan gua jatuh. Lu kan yang gendong gua sampek ke rumah, dan lu dimarahi karena sepeda lu hilang karena ditinggal di tengah jalan..” sebuah nasihat Toni meluncur dengan tajam menusuk hati Romi.
“Aaaaaaargkhh..... diam lu... tiap hari lu ngomong gitu, sampek sakit kuping gua... karena lu, gua dimarahi ayah gua, sampek gua gak bisa jalan dua hari karena gua dipukul pakek sapu lidi ama ayah gua, dan kenapa lu gak datang ngejenguk gua..”

Tanpa sadar, Romi memegang sebuah batu besar dan Toni terkapar tak sadarkan diri mengeluarkan banyak darah. Terkejut Romi berlari secepat mungkin sebelum ada yang melihat, karena takut ditangkap dan dihajar oleh massa.

Romi mendengar kabar bahwa Toni sudah sadar setelah pingsan seminggu. Ingin sekali Romi meminta maaf pada Toni dan menyesali apa yang telah ia perbuat pada sahabat baiknya dari kecil. Ia mulai memikirkan hari yang tepat untuk pergi ke rumah sakit tanpa diketahui keluarga Toni.

Akhirnya Romi menemukan hari yang tepat untuk pergi menemui Toni dan meminta maaf, yaitu hari Sabtu sore. Toni hanya memiliki satu keluarga, hanya ayahnya. Karena ayah Toni masih bekerja saat sore dan pulang malam. Kesempatan itu Romi gunakan dengan segera untuk menemui Toni.

Sesampainya di rumah sakit, Romi terkejut karena melihat ayah Toni yang tidak pergi bekerja dan mengeluarkan banyak air mata, hingga bajunya kuyup oleh air mata. Romi mencoba untuk menguping percakapan antara ayah Toni dengan seorang Dokter yang menangani Toni. Ternyata Toni meninggal karena gegar otak yang sangat parah, karena benturan benda keras di kepala.

****

Malam yang tak kunjung berakhir Romi lalui dengan penuh penyesalan setelah apa yang baru menimpanya, wajahnya basah oleh air mata, pikirannya dipenuhi oleh bayangan-bayangan kesalahan yang telah ia perbuat. Ia duduk di tengah-tengah trotoar yang jalannya sepi oleh kendaraan, menyesali semua kesalahannya. Seorang teman yang selalu peduli padanya, kini meninggalkannya untuk selamanya karena perbuatannya sendiri. Tak habis air matanya ia keluarkan atas penyesalannya pada apa yang diperbuatnya.

Romi berjalan menyusuri rel kereta api yang sepi dan gelap. Tiba-tiba dari belakangnya terdengar jeritan yang sangat keras, dan cahaya yang sangat terang. Romi terus berjalan tanpa menyadari kereta api sudah mendekat di belakangnya. Ia berbalik arah dan melihat bayangan Toni yang melambai-lambai seakan mengingatkan sesuatu, ia membalas lambaiannya dan kemudian kereta api menghantam tubuhnya dari arah bayangan Toni, dan tubuh Romi hilang entah kemana.

SEKIAN..


Senyum Terakhir

                 Di pagi yang cerah, aku duduk di sebuah kursi taman yang ada di depan rumahku. Pemandangan yang begitu hijau bercampur warna-warna dari bunga-bunga yang elok, terhampar di hadapanku. Burung-burung berkicauan saling berkomunikasi satu sama lainnya, hinggap di ranting-ranting pohon untuk mencari makan.
            Aku menunggu seseorang, untuk menyampaikan sesuatu yang belum sempat tersampaikan selama tiga tahun. Seseorang yang ingin kujadikan purnama yang selalu menghiasi malamku, dengan sinar yang menyejukkan jiwa. Hari-harinya diisi dengan sejuta senyum yang membuat hati para orang-orang yang melihatnya bergetar tak karuan. Kesempurnaan paras wajahnya, tidak akan bisa di gambarkan dengan apapun.
            Aku menunggunya sambil membaca buku, buku yang di hadiahkan olehnya bulan lalu, saat ulang tahunku yang ke 18, buku dengan judul “SURAT-SURAT CINTA”, dengan tebal 336 halaman. Aku sudah membacanya beberapa kali sampai aku hafal dengan jalannya cerita yang ada di buku itu. Di dalamnya menceritakan tentang ketangguhan seorang wanita, dalam menghadapi cobaan hidup. Wanita itu menderita penyakit jantung. Wanita itu mencintai lelaki yang juga mencintainya. Tapi dia tidak tahu, apakah lelaki itu mencintainya atau tidak. Sampai takdir mempertemukan mereka, di hadapan sang pencipta. Wanita itu meninggal karena penyakit jantungnya, sedangkan lelaki itu kecelakaan, setelah mendengar bahwa wanita itu sakit, lelaki itu langsung ngebut dengan sepeda motornya. Di tengah perjalanan, lelaki itu menabrak sebuah pohon setelah berusaha menghindar dari truk dengan pengemudi yang ngantuk, hingga tewas. Mungkin aku akan berpisah dengan purnamaku, seperti yang ada di cerita itu.
            Tidak terasa, 336 halaman selesai kubaca. Entah berapa lama aku duduk disini. Saat kulihat arlojiku menunjukkan pukul 11.00, ternyata aku sudah 3 jam  berada disini. Semakin lama aku menunggu, sampai perutku terasa perih karena tidak makan dari pagi. Dan ibu memanggilku untuk sarapan. Aku menolaknya demi menemui seseorang. Kemudian rasa kantukku menyerang dengan sangat dahsyat. Saat aku hampir terlelap, tiba-tiba seseorang yang sepertinya tidak kukenal menghampiriku dengan tergesa-gesa.
            “Vita,.. temanmu...” katanya.
            “Ada apa dengannya? Dan siapa kau ini?” tanyaku.
            “Dia terkena kangker hati, dan sekarang dia tidak sadarkan diri di rumah sakit, aku kakaknya, sekarang kau ikut aku” jelasnya.
            Semua badanku kaku, sulit untuk digerakkan, karena berita itu. Vita, dialah purnama yang kutunggu, tapi mengapa dia harus menderita seperti ini?, padahal dia selalu tersenyum, yang sepertinya dia sehat-sehat saja. Perlahan aku naik ke boncengan sepeda motor milik kakaknya, seakan tak percaya.
            Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bergegas menuju kamar nomor 336, persis dengan jumlah halaman buku yang di hadiahkan Vita padaku. Perlahan aku masuk ke dalam, dan kulihat Vita terbaring lemas di ruang UGD. Kucoba untuk mendekatinya, dia tidak sadarkan diri. Kuraih tangannya, terasa dingin, tapi lama kelamaan semakin hangat. Baru kusadari kalau tangannya memegang tanganku, kuusap air mataku dan kucoba untuk mengatakan beberapa patah kata, tapi aku tidak bisa, karena dia tersenyum padaku. Lama-lama senyumnya memudar, seakan terjadi sesuatu padanya.
            Tiba-tiba seseorang membangunkanku, seorang wanita cantik berkerudung sudah duduk di sampingku, ternyata dia adalah seseorang yang kutunggu.
            “Ada apa?” tanyanya. Aku tetap diam, sambil mengucek mataku seakan tak percaya.
            “Ada perlu apa kau memanggilku kesini??” tanyanya lagi. Aku tetap diam. Sepertinya dia semakin jengkel.
            Akhirnya kujelaskan tujuanku memanggilnya kesini. Bahwa aku akan pergi merantau selama beberapa tahun untuk kuliah ke ujung timur Indonesia, tepatnya ke Papua. Dan aku akan meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama. Dia menunduk, sepertinya dia kurang setuju, karena kulihat air mata mengalir dari pelupuk matanya. Dan kujelaskan bahwa aku sudah mendapat persetujuan dari orang tuaku, untuk melamarnya selesai kuliah. Dan kumohonkan untuk yang terakhir kalinya padanya, agar dia menjadi orang pertama setelah orang tuaku yang mengantar dan menjemputku di bandara.
            Saat tiba keberangkatanku ke bandara, kutanya lagi pada ayahku, apakah Vita sudah diajak. Saat aku keluar, seakan tak percaya seorang wanita cantik berdiri di hadapan pintu. Dengan gaun warna pink dan kerudung warna pink yang sangat menawan. Saat kutanya apa dia benar-benar Vita atau bukan, dia hanya menunduk seraya tersenyum.
            Sewaktu tiba di bandara, kuangkat semua barang-barangku dari mobil. Kucium tangan kedua orang tuaku, dan Vita juga mencium tanganku. Aku bergegas seraya melambaikan tangan ke arah orang tuaku atas kepergianku ke tempat yang cukup jauh.
***
            Empat tahun berlalu sejak aku berpisah dengan orang tuaku dan Vita, kini tiba saatnya aku pulang. Kupesankan lagi pada ayahku untuk membawa Vita menjemputku di bandara. Empat tahun kubayangkan bagaimana perasaan Vita saat kutinggal pergi.
            Di perjalanan, kubayangkan betapa senangnya aku berjumpa kembali dengan orang tuaku dan teman-temanku di rumah, terutama Vita. Empat jam perjalanan tidak terasa, kini landasan sudah terlihat.
            Ketika pesawat akan mendarat, tiba-tiba salah satu mesin mati dan membuat pesawat tidak seimbang. Dan akhirnya pesawat jatuh tepat di landasan satelah berputar beberapa kali. Dan semuanya gelap.
            Saat kubuka mataku, kulihat orang tuaku menangis sambil mengikutiku yang dibawa dengan divan dorong. Kucari Vita di kanan-kiriku, dia tidak ada. Saat kulihat ujung kakiku, terlihat dia dengan gaun yang sama saat dia mengantarku ke bandara, tapi wajahnya basah karena air mata. Samar-samar kulihat sebuah pintu dengan nomor 336, sama dengan yang ada dalam mimpiku. Dan semuanya kembali gelap.
            Dan kubuka lagi mataku, terasa ada yang memegang tanganku, tangannya halus, dan dengan lembut kuraih tangan itu, Vita pemilik tangan itu. Kuusap air matanya, dan aku berpesan padanya agar selalu tabah menjalani hidup, dan selalu bersabar saat ada masalah, karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Dan kukatakan lagi padanya, jika kita memang ditakdirkan untuk berpisah, kuingin kau tahu, bahwa pertemuan kita merupakan awal dari kita berpisah.. Akhirnya kututup mataku untuk yang terakhir kalinya.
SEKIAN..

Kenangan Terakhir




Matahari senja yang indah menghiasi pesisir pantai Karang Taruna, sinar jingganya menghampar di sepanjang garis pantai. Aku berjalan menyusuri sepanjang garis pantai yang tidak terlalu luas itu, dan dengan santai sambil siul-siul aku mencari seseorang yang sudah membuat janji untuk bertemu di tempat itu. Nisa, dia adalah wanita yang selama ini kusukai, dan menunggu saat yang tepat untuk menyampaikannya, dia cantik dan anggun, murah senyum, dan jika dia senyum aku bisa langsung melupakan segala sesuatu yang memberatkan pikiranku.
Hampir tiba aku di ujung pantai itu, kulihat seorang wanita cantik duduk sendiri di sebuah batu besar di pesisir pantai, sinar senja menambah anggun gaun serba pink yang dia pakai. Dialah wanita yang kucari dari tadi, dia lupa memberitahukan lokasi yang tepat untuk pertemuan yang dia janjikan. Kusapa dia dari samping dan duduk di sampingnya
“Ada apa?” tanyaku membuka percakapan
“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu..” katanya sambil menatap jauh pada matahari senja
“Tunggu dulu..! ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu”
“Apa itu?” tanyanya penasaran
“Nanti dulu! Kamu jangan lihat kesini dulu”
“Baiklah”
Dia berbalik badan, dan kusiapkan sesuatu yang ingin kuberikan padanya. Kubuka sebuah kotak kecil berwarna merah pekat
“Sekarang berbaliklah...” pintaku
Dia berbalik dan terkejut melihat sebuah kotak berisi dua cincin di tanganku. Seakan tidak percaya, dia meneteskan air mata, aku tidak tahu apakah dia senang atau sedih
“Kenapa? Apakah kamu menolak?” tanyaku setelah melihat air mata jatuh dari pelupuk matanya
“Tidak, aku tidak menolak... aku hanya gembira dengan apa yang kamu berikan...” katanya sambil menunduk mengusap air matanya
“Dan... apa yang ingin kamu sampaikan tadi?”
“Tapi janji... kamu jangan nangis”
“Okelah...”
“Sebenarnya aku sudah lama menderita ini, tapi aku tidak sanggup mengatakannya padamu, karena aku takut kamu akan sedih..”
Dia terus menatap jauh pada matahari yang semakin tenggelam
“Maksudnya apa ini...” tanyaku heran
“Aku menderita kanker otak, dan dokter memvonis hidupku tinggal seminggu lagi, jadi aku ingin segera mengatakan bahwa dari awal kita kenal, aku sudah menyukaimu...”
Air matanya semakin deras mengalir, sampai aku tidak kuasa memikirkan apa yang ada di dalam hatinya. Hingga ingin kuusap air matanya di pipinya, saat tanganku hampir sampai di pipinya
“Maaf... kita masih belum halal...” katanya sambil mencegah tanganku hinggap di pipinya
“Maaf... aku lupa... tapi bagaimana dengan lamaranku? Apakah kamu akan menerimanya?” kutanya lagi tentang tujuan awalku
“Jika kamu ingin hidup denganku... aku tidak bisa... aku takut kamu akan menderita karena sebentar lagi aku pergi...”
“Aku ingin membuatmu bahagia di saat-saat terakhirmu”
“Apakah itu tidak akan membuatmu menderita?”
“Aku tidak akan menderita jika melihatmu bahagia...” jawabku
“Jika itu yang kamu inginkan...”
****
Besoknya, akad nikah diadakan di rumah Nisa. Ayahnya sebagai wali,  dua pamannya sebagai saksi, dan seorang kiyai pemimpin pondok pesantren besar sebagai penghulu. Semuanya berjalan lancar sesuai rencana, hingga aku dipertemukan dengan Nisa di kamar pengantin.
Nisa terlihat sangat cantik dengan sedikit polesan kosmetik dan gaun yang dipakainya.
“Bagaimana perasaanmu?” kutanya Nisa yang tengah duduk di ranjang
“Aku sangat senang dengan semua ini... bagaimana denganmu?” katanya sambil menunduk
“Aku juga sangat senang, karena semua ini adalah impianku dari dulu”
Hari-hari kujalani dengan penuh kegembiraan bersama Nisa, setiap sore kuajak Nisa ke pantai Karang Taruna tempat kenangan terindah antara aku dan Nisa. Setiap hari aku ingin membahagiakan Nisa sebelum saat terakhirnya tiba.
****
Hari ini adalah seminggu dari vonis dokter tentang Nisa. Aku duduk di ruang tunggu sambil menunggu keputusan dokter tentang Nisa. Aku membawa Nisa ke rumah sakit setelah dia pingsan di dapur saat hendak masak. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dokter keluar dan mengatakan bahwa Nisa sudah meninggalkanku untuk selamanya. Seakan tidak percaya, aku langsung lari menuju ruangan tempat Nisa dirawat. Kulihat wajah Nisa pucat dan matanya menutup, kudekati dia, wajahnya masih memancarkan senyum yang telah membuatku menjadi begini. Aku berlutut di dekatnya sambil memegang tangannya yang dingin, aku tidak bisa menahan air mata setelah orang yang selama ini kucinta, kini harus meninggalkanku untuk selamanya.

SEKIAN..

Tuesday, March 19, 2019

Janji


(Seri terakhir dari 'Spekulasi dan Sangka' dan 'Cerita Ika')


Dua bulan berlalu sejak kecelakaan menimpaku, kini aku telah pulih sepenuhnya, meski masih dibantu tongkat untuk berjalan karena tulang pahaku yang belum tersambung sempurna. Walaupun begitu aku sangat bahagia, bahagia karena selalu ada tongkat hidup yang bersedia menopangku kemana saja. Seseorang yang sangat spesial bagiku, dan aku pun spesial baginya. Ika Nurlaila, yang kini menjadi kekasihku sejak dia dengan berani mengungkapkan perasaan sayangnya padaku kepada orang tuaku. Dan bersedia menemani dan merawatku sampai sembuh total.

“Jalannya pelan-pelan dong sayang, biar cepat sembuh.” Ucapnya lembut penuh perhatian, dengan tangannya melingkari lenganku.

“Gak apa-apa biar kakiku terlatih dan terbiasa.” Ucapku sambil mempercepat langkahku.

“Tapi kan pelan-pelan juga bisa.” Protesnya.

“Iya-iya. Gak usah manyun gitu dong, nanti manisnya hilang.” Sambil kubelai lembut pipinya, membuat senyumnya kembali merekah.

“Iiihh.. kamu gombal terus. Jalan sendiri aja.” Ucapnya lalu melepas rangkulannya dari lenganku.

“Ngambek terus.”

Langkah kaki ini semakin ringan seiring bergantinya hari. Semangatku untuk sembuh selalu terpompa berkat dukungan tanpa henti yang Ika berikan. Memang dia sesekali bosan denganku karena aku yang selalu merayunya, tapi itu tidak pernah bertahan lama. Begitulah hubungan, sama halnya dengan roda kehidupan yang kadang di atas dan kadang d bawah, juga pasti akan kembali lagi seperti semula.

Ika selalu siap kapanpun aku ingin jalan-jalan keluar, karena aku telah hafal jadwalnya sibuk dengan kuliahnya. Dia sempat cuti kuliah selama 3 minggu akibat kecelakaan waktu itu, jadi dia harus ngebut mengejar ketertinggalannya. Sedangkan aku harus cuti kerja sampai benar-benar sembuh, karena bosku yang baik hati tidak tega untuk melihat karyawannya yang bekerja mengandalkan kakinya harus bekerja dengan kondisi pincang. Aku bekerja di pabrik sepatu milik pamanku, dan tugasku adalah mondar-mandir mencatat setiap detail hasil produk yang dikerjakan karyawan lain, lalu mendistribusikannya ke berbagai tempat sesuai pesanan.

“Duduk dulu ya. Capek aku.” Aku duduk di depan sebuah toko saat kakiku mulai terasa letih. Ika masih bersamaku dengan tatapannya yang penuh perhatian.

“Sayang.. terimakasih karena kamu sudah bersedia menjadi pendamping hidupku.” Ucapku sambil menggenggam tangannya.

“Seharusnya aku yang berterimakasih. Berkat kamu aku jadi tahu bagaimana rasanya jatuh cinta dengan begitu dalam, bahkan aku masih ingin untuk masuk lebih dalam lagi. Berbeda sekali dengan perasaanku sebelumnya yang kusebut cinta, karena kali ini aku benar-benar jatuh cinta.” Nadanya sungguh-sungguh dengan senyum manisnya kembali merekah.

Aku tidak bisa berkata apa-apa, perasaanku bergejolak tak bisa kutahan, sampai ingin sekali aku menciumnya. Kudekati wajahnya, dia mulai menutup mata.

“Woy! Pacaran jangan di depan toko gue!” Bentak pemilik toko yang tiba-tiba keluar untuk protes dengan nada tinggi, urat lehernya menyembul keluar.

“Maaf Om kami gak bermaksud. Cuma gak kuat tadi.” Aku salah tingkah dan beringsut meninggalkan tempat itu.

“Dasar anak muda jaman sekarang!” Sambung pemilik toko, membuat sedikit keributan diantara para pengunjung tokonya.

Salah tingkah dan malu kurasakan, bisa-bisanya aku lupa daratan. Kulihat Ika hanya tertunduk dalam, wajahnya merah padam menahan malu.

“Maaf ya barusan aku gak sadar tempat. Malu banget aku.” Tak sanggup aku menghadapi Ika jika kejadian barusan membuatnya marah.

“Gak apa-apa kok. Yang penting gak ada yang marahin lagi.” Ucapnya pelan, masih menunduk.

“Eeehhh??”


***

_seminggu kemudian
Suara berisik mesin pemotong, suara mesin jahit, aroma sol karet, dan suara para pekerja yang bercengkerama memenuhi ruangan. Aku yang masih mondar-mandir mengecek kesiapan produk yang akan segera dikirim. Yup, aku telah kembali bekerja dan aku telah sembuh sepenuhnya, jadi aku harus bekerja lebih giat lagi agar mendapat gaji lebih setelah 2 bulan cuti. Mulai sekarang aku harus lebih rajin menabung, agar suatu saat nanti aku telah siap untuk menikahi Ika. Telah kubulatkan tekad bahwa aku akan menikahinya. Perasaanku yang kian hari kian besar padanya, membuatku memantapkan keputusanku.

“Kak Eko, sudah siap belum?” Suara lembut yang berasal dari Yuni, anak pamanku atau lebih tepatnya sepupuku, membuyarkan lamunanku.

“Eh iya dek, sedikit lagi.” Jawabku bergegas menyortir sepatu yang telah terbungkus rapi.

“Papa bilang cepetan, biar gak keburu siang.” Pesan Yuni  lalu bergegas keluar.

Mobil boks pengantar sepatu yang dikemudikan sendiri oleh pamanku melaju kencang membelah kota, mengantar setiap pesanan menuju tuannya masing-masing.

“Kakimu gak kumat lagi kan Ko?” Tanya pamanku tiba-tiba dengan masih fokus ke jalanan.

“Sudah sembuh kok, man. Cuma masih belum bisa dibawa lari.” Jawabku.

“Ya jangan lari , nanti patah lagi terus cuti lagi, jadi aku yang harus gantiin, nambah kerjaanku.” Ucap Yuni menatapku. Dia berada di tengah antara aku dan paman, karena tubuhnya yang mungil jadi terasa lebih leluasa meskipun harus berisi 3 orang.

Sepanjang perjalanan diisi obrolan santai ala keluarga, bukan antara bos dan karyawan. Sesekali gelak tawa pamanku yang khas terdengar membahana setiap menceritakan hal-hal yang menurutnya lucu, aku hanya mengikuti saja bagaimana ceritanya. Beberapa kali aku harus pura-pura ingin tahu saat paman mencoba membuatku penasaran, agar gurauannya jadi terdengar sempurna, dan agar dia bisa mengeluarkan kembali tawanya yang khas itu. Dan Yuni yang mungkin telah bosan dengan cara pikir ayahnya, memilih untuk membisu sepanjang perjalanan. Hanya saat aku menceritakan awal mula pertemuanku dengan Ika, dia begitu antusias ingin mendengarnya dari awal sampai akhir. Dia merasa kagum pada Ika begitu kuceritakan tentangnya. Kini ekspresinya lebih seperti anak kecil yang selalu penasaran dan penuh tanya. Jadi harus kuceritakan sedikit demi sedikit, hingga sampai pada saat Ika menyatakan perasaannya. Tidak bisa kuceritakan kejadian memalukan di depan toko waktu itu, bisa-bisa itu membuatnya menertawaiku membuatku semakin malu.

Akhirnya mobil boks telah sampai di depan pabrik dengan muatan yang telah kosong, pamanku menghentikan lajunya dan bergegas turun. Aku turun duluan lalu disusul Yuni.

“Eh kak. Kalian pernah ciuman gak?” Tanya Yuni tiba-tiba dengan wajah lebih penasaran. Dia terus membuntutiku.

“Kasih tau gak ya?” Jawabku mengacuhkannya.

“Ayo dong kak, kasih tau.” Dia semakin penasaran.

“Kamu itu masih kecil, gak perlu tau.”

“Siapa yang masih kecil? Aku udah SMA tau? Lagian kan tinggal jawab pernah atau belum, lalu selesai.” Protesnya dengan nada kesal.

“Privasi.” Jawabku santai lalu berpaling darinya.

“Gubrakk!” Aku jatuh terjungkal ke belakang setelah Yuni menarik lengan bajuku, aku kehilangan keseimbangan. Tidak begitu sakit, mungkin hanya lenganku lecet akibat menopang jatuhku.

“Eh aduh maaf kak aku gak bermaksud.” Yuni panik sambil membantuku berdiri.

“Eko sayang.. Kamu kenapa? Kok bisa jatuh?” Tiba-tiba Ika berlari menghampiriku entah dari mana.

Dia mendorong Yuni agar menjauh, mungkin pikirnya Yuni hendak mencelakaiku.

“Gak apa-apa. Aku cuma  kehilangan keseimbangan. Kamu kok tiba-tiba ada disini?” Aku berusaha bangkit perlahan dibantu Ika.

“Aku nungguin kamu disini dari tadi. Aku bawain kamu makanan buat makan siang, tapi kamu malah bercanda sama cewek ini.” Ika menunjuk Yuni dan membuatnya sedikit kaget.

“Gak usah cemburu gitu lah, dia ini sepupuku. Anak dari pamanku yang punya pabrik sepatu ini.” Kucoba menjelaskan.

Kupinta Yuni agar memperkenalkan dirinya dan menjelaskan situasinya. Sejenak wajah Ika sedikit memerah saat Yuni menyinggung tentang ciuman.

“Sudah jelas kan?” Tanyaku memastikan, dan dijawab dengan anggukan Ika. “Kamu bawa nasi goreng kan?” Lanjutku.

“Kok tau?” 

“Dari aromanya tercium kesungguhan seorang wanita yang membuatnya demi pria yang disayanginya.” Tanganku telah bersiap menerima kotak bekal itu.

“Kata siapa ini buat kamu? Ini untukku sendiri kok.” Ucapnya berpaling.

“Udah siniin, cacing di perutku udah pada demo semua. Gak tahan dengan aroma nasi goreng cinta yang kamu bawa.” Masih berusaha meraih kotak bekal dari tangannya.

“Iiihhh.. malessin banget sih kamu? Ya udah nih.” Akhirnya dia luluh, dia sodorkan kotak bekal itu dengan menunduk sambil menahan senyum.

“Nah gitu dong dari tadi. Yuk ikut aku.” Kuraih tangannya.

Kupinta Yuni untuk meninggalkan kami berdua. Tak lupa kubisikkan padanya untuk menutup jendela samping pabrik, juga memintakan izin istirahat siang pada paman. Dia hanya mengangguk bergegas masuk pabrik.

Ika hanya manut begitu kuajak ke samping pabrik, disana terdapat beberapa bangku panjang tempat biasa para karyawan beristirahat. Sekarang mereka masih bekerja karena waktu istirahat masih 30 menit lagi.

“Sebelum makan, aku ingin tanya sesuatu.” Ucapku begitu kami duduk di bangku yang paling dekat dengan dinding. Ika hanya diam menungguku melanjutkan. “Aku tau jawabannya sudah jelas. Tapi aku ingin memastikannya lagi. Kamu serius denganku kan?” Kutatap matanya hingga tatapan kami bertemu.

Ika mengangguk pasti. Tiada keraguan pada anggukannya. Kugenggam kedua tangannya, terasa hangat.

“Mulai sekarang aku janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh, menabung sedikit demi sedikit, demi masa depan kita. Suatu saat aku pasti akan menikah denganmu, aku janji. Jadi kamu juga harus berjanji untuk  selalu percaya pada perasaanku. Perasaanku padamu yang takkan tergantikan. Janji?” Ucapku masih menatapnya, kugenggam tangannya erat.

“Iya aku janji.” Ika mengangguk pasti dengan senyum merekah.

Perasaan ini kembali bergejolak. Perasaan  yang sama seperti waktu itu. Tanpa pikir panjang, kudekatkan wajahku padanya. Kubelai lembut pipinya yang imut. Dia mulai menutup matanya dan mengangkat sedikit wajahnya.

Cieeee..... melamar nih ceritanya?” Para karyawan tiba-tiba bersorak dan berdesakan mengintip keluar jendela.  Yuni berada di antara mereka. Entah sejak kapan mereka menguping pembicaraan kami, tapi mereka memilih waktu yang tepat untuk mengganggu.

“Wah.. romantis banget!” Teriak Yuni tak mau kalah.

Aku terlalu kaget hingga tak sanggup berkata apa-apa. Kaget bercampur malu kurasakan, yang terjadi untuk kedua kalinya.

Akhirnya aku dan Ika menikmati bekal makan siang bersama para karyawan yang lain. Sesekali gelak tawa bergemuruh saat mereka menyinggungku, membuat tawaku berbaur bersama tawa mereka. Ika pun ikut tertawa, gembira karena kebersamaan dan kekeluargaan yang tercipta siang itu.

Aku telah berjanji. Janji yang pasti akan kutepati. Karena aku akan berusaha yang terbaik demi menepati janji itu suatu saat nanti.



SELESAI..

Monday, September 18, 2017

Cerita Ika

(seri kedua dari “Spekulasi dan Sangka”)


Asap mengepul di ujung tempat dapur berada, bartender berlalu lalang menyapa setiap pengunjung yang datang, aroma khas kopi tercium dari arah sekelilingku. Kafe, tempat termewah yang pernah kudatangi.

Setelah sering berkomunikasi dan bertukar cerita, malam ini aku dan Ika membuat janji untuk bertemu di sebuah kafe di Surabaya. Ika yang menentukan tempatnya, dan kini dia terlambat dari waktu pertemuan yang ditentukan. Aku telah lebih dahulu memilih meja untuk kita berdua dan mengiriminya pesan begitu meja kudapat. Sesekali kulihat arlojiku yang semakin menjauh dari waktu pertemuan, baru sepuluh menit tapi aku merasa gugup seakan telah menunggu berjam-jam.

Aku melambai pada seorang wanita dengan cardigan biru dan topi kupluk yang melangkah masuk dengan celingak-celinguk, itu dia akhirnya datang. Kini dia melangkah ke arahku sambil tersenyum simpul, lalu menyapa dan menyalamiku. Dia memakai pakaian kasual dan santai, tapi terlihat sempurna di tubuhnya. Kupersilahkan dia duduk di hadapanku dan membiarkan bartender mencatat pesanan kami.

“Kopi susu panas. ” Pesananku dicatat.

“Coffee ice with latte.” Pesanan Ika juga dicatat.

Dari pesanan kami terlihat jelas siapa yang sering nongkrong di tempat seperti ini. Kumulai dengan obrolan sederhana untuk mencairkan suasana, hal yang seharusnya dilakukan saat pertemuan pertama. Lalu dilanjutkan dengan menyinggung penampilan masing-masing.

“Kamu itu kelihatan banget cantiknya kalau pakai baju itu.” Kulontarkan pujianku.

“Kamu bisa aja. Aku cuman gak mau disebut ‘tanpa memikirkan apapun’ lagi oleh seseorang yang punya indra ketujuh.” Dia berusaha menghindar. Aku tertawa.

“Kan aku udah pernah bilang, aku gak punya indra ketujuh. Sebenarnya aku cuman tahu caranya mengkritik seseorang dari memperhatikan penampilannya.” Aku menjelaskan.

“Iya aku tahu kok.” Jawabnya santai.

Bartender dengan rambut cepak membawa nampan dan meletakkan pesanan kami di meja.

“Silakan pesanannya. Coffee latte with ice untuk mbaknya, dan kopi susu panas untuk masnya.”

“Terima kasih.” Ucapku dan Ika hampir bersamaan.

Lalu obrolan pun dilanjutkan sambil menikmati kopi masing-masing. Sesekali kuperhatikan Ika mengaduk kopinya dengan sedotan, lalu meminumnya perlahan.

“Eh, ngomong-ngomong katanya kamu mau ceritain sesuatu? Apa?” tanyaku penasaran mengingat dia pernah menyinggungnya sebelumnya.

“Kamu dengerin ya. Soalnya ceritanya panjang banget. Dimulai saat aku berkenalan dengan seorang cowok di facebook, namanya Rifki. Orangnya ganteng, ramah, dan baik hati pula. Awalnya dia menyapaku, lalu aku ladeni, akhirnya kita kenalan dan seterusnya. Setiap hari kita chattingan sampai curhat-curhatan, dia juga bilang suka padaku dan ingin bertemu denganku suatu saat. Dia merantau di Ambon udah lama banget, dan ada rencana mau mudik dalam waktu dekat. Itu udah terjadi sejak setahun lalu, ya gitu kita selalu chattingan. Saling komentar di postingan masing-masing, sampai saling tukar foto, saling tukar nomor handphone. Jadi hampir setiap malam dia meneleponku, dia bilang suaraku bagus. Jujur aku jadi suka padanya. Lalu akhirnya aku tahu dia akan mudik, jadi aku menagih janjinya dan ingin menjemputnya di bandara. Dia memberitahuku jadwal dia tiba hanya sejam sebelum jadwalnya. Dan seperti yang kamu tahu, aku langsung buru-buru pakai baju seadanya, bawa uang yang ada di kantong yang hanya cukup untuk ongkos naik taksi ke bandara tanpa memikirkan bagaimana pulangnya, yang penting aku ingin segera bertemu dengannya.

Di bandara aku menunggu sambil mencoba menghubunginya dan berpesan padanya bahwa aku menunggunya, tapi sejak kabar terakhir dia memberitahuku jadwal kedatangannya dia tidak lagi menghubungiku ataupun mengaktifkan ponselnya. Aku jadi gelisah. Lalu di tengah kegelisahanku, aku memperhatikan seorang cowok sedang mencoba merayu beberapa cewek. Dia benar-benar payah dalam hal itu, yang dia lontarkan hanya rayuan yang sama. Kurasa akhirnya dia menyerah dilihat dari wajahnya yang terlihat lesu. Lalu dia mulai memperhatikanku, kuduga dia akan segera menggodaku, dan benar saja dia mendatangiku dan mengajakku basa-basi. Awalnya aku cuek padanya, tapi kucoba membuka hati siapa tahu dia bisa menghiburku selagi aku menunggu Rifki. Dia lumayan asyik, dan sedikit cerewet sih. Namanya Eko.” Ika melirikku sambil menahan senyum. Aku hanya tersenyum sambil menunggu kelanjutan ceritanya.

“Lalu kuceritakan bahwa aku punya masalah, sepertinya dia tidak terlalu ingin membantu. Gak lama setelah itu kakaknya datang, dia malah langsung pergi. Jadi kupikir dia memang tidak punya niat baik. Setelah beberapa kali mencoba menelepon Rifki lagi, dia kembali bersama kakaknya dan menawarkan bantuan, aku senang banget waktu itu. Dalam pandanganku, dia berbeda sekali saat bersama kakaknya. Dia seperti seorang adik yang beranjak dewasa daripada perayu cewek. Jadi kuputuskan untuk mencoba mengenalnya lebih jauh. Dan begitulah, kini dia berada di hadapanku dengan senyumnya.” Ika menutup cerita.

“Lalu, bagaimana perasaanmu setelah tahu Rifki yang sebenarnya?” tanyaku.

“Kecewa lah. Di fotonya kelihatan ganteng, aslinya malah gak ganteng-ganteng amat. Apalagi setelah tahu dia udah punya anak-istri, aku kecewa pake banget. Pokoknya gak mau lagi kenal-kenalan di dunia maya, mending cari yang nyata aja.” Jawabnya dengan nada kesal.

Waktu kita lewatkan dengan saling bertukar cerita dan pengalaman. Ternyata dia telah mengalami beberapa hubungan melalui dunia maya, bahkan sempat pacaran yang berawal dari kenalan di facebook. Aku hanya membayangkan, bagaimana caranya dia menumbuhkan perasaan pada seseorang yang tidak pernah dilihatnya secara langsung.

Tanpa terasa, malam kian larut. Ika terlihat lesu dengan mata yang sayu. Aku menawarkan untuk mengantarnya pulang, dia tidak menolak. Lalu dengan senang hati aku mengantarnya pulang setelah membayar di kasir.

Angin malam yang menerpa membuat Ika harus memegangi topi kupluknya saat motorku melaju agar tidak terlepas. Kuhentikan motorku untuk menawarkan helmku agar dipakainya, dia memakainya tanpa ekspresi mungkin karena kantuknya. Lalu kulanjutkan perjalanan.

“Aku meluk ya, soalnya ngantuk banget.” Ucap Ika lirih sambil tangannya melingkari pinggangku.

Aku hanya membiarkannya, membiarkan tubuhnya menghangatkanku untuk mengusir dinginnya terpaan angin. Kepalanya telah bersandar ke punggungku. Masih beberapa kilometer lagi untuk sampai di rumah Ika dan malam sudah selarut ini, bagaimana aku pulang? Itulah yang terbayang dalam benakku.

Diterpa angin malam tanpa helm membuat mataku berair, sesekali kupicingkan mata untuk menghindarinya. Kuusap mataku saat air mata mulai menggenang, beberapa kali kukedip-kedipkan membuatku sesaat kehilangan fokus ke jalan. Hingga terlambat kusadari sebuah mobil yang baru keluar dari gang dengan terburu-buru, membuatku tidak sempat menghindar dan motorku menabrak bagian sampingnya. Tubuhku menghantam pintu mobil dengan keras akibat kencangnya laju motorku juga tubuh Ika yang masih memelukku dengan erat. Aku tersungkur, telingaku berdenging, darah mengucur menutupi pandanganku. Terakhir kulihat sopir mobil yang kutabrak berteriak kalut sambil meminta bantuan orang-orang sekitar, dan orang-orang mulai berkerumun.

***
_dua minggu kemudian

Aku terbangun dari tidur, akibat suara berisik di luar. Samar-samar aku mengenali suara itu, Ika. Terakhir kudengar dia hanya mengalami patah tangan saat aku baru tersadar seminggu lalu. Aku sedikit lega dia tidak terluka serius gara-gara aku.

Pintu kamarku terbuka, ibuku yang pertama kali masuk. Lalu disusul Ika dan orang tuanya. Ika langsung menghampiriku.

“Hai.. apa kabar?” ucapku sambil tersenyum saat melihatnya terdiam beberapa saat.

“Kamu itu ya, udah kepala diperban, tiduran di kasur, kaki masih pakai gips. Kamu gak berhak tanya begitu tahu?” bentaknya dengan mata berair. 

“Aku kan nanya. Tanganmu kan juga di gips, digantung pula.”

“Mending tanganku yang digantung, daripada perasaanku yang digantung.” Ucapnya sambil menahan senyum.

“Jiaahh.. malah curhat.” 

Aku dan Ika tertawa, orang tua Ika hanya tersenyum menanggapinya, mereka masih mengobrol dengan ibuku sambil sesekali memperhatikanku. Aku tidak begitu mengenal mereka, tapi mungkin Ika telah bercerita tentangku pada mereka.

“Waktu itu, kamu kok kasih helmmu padaku sih? Coba kamu tetap pakai helm, kepalamu gak mungkin diperban kayak gini.” tanya Ika sedikit lirih.

“Kasihan aja kamu sampai harus pegangin kuplukmu, kulihat juga kamu ngantuk banget. Lagian itu udah kehendak takdir.” Jawabku masih menatapnya.

Orang tua Ika meninggalkan kamarku bersama ibuku setelah mengucapkan beberapa kata, Ika belum melepas tatapannya dariku. Kini hanya kami berdua, di dalam kamarku yang dipenuhi aroma obat-obatan dan perban.

“Melihatmu begini gara-gara aku, aku jadi sayang sama kamu.” Ucapnya lirih dengan nada menurun, lalu menyandarkan kepalanya ke perutku. Terasa sesak sih, tapi kubiarkan saja.

Aku jadi berpikir, apakah kata-katanya serius? Atau sesingkat itukah dia menumbuhkan perasaannya padaku? Begitu mudahnya dia jatuh hati, seakan sebuah perasaan baginya seperti kecambah yang mudah tumbuh lalu menghilang begitu saja. Itu membuatku sedikit bingung bagaimana menanggapinya, tapi dia imut sih.

“Masa’ cewek yang nyatain perasaan? Gak seru lah.” Protesku.

“Biarin, daripada keduluan.”

“Keduluan? Sama siapa?” tanyaku penasaran.

“Tuh di depan, yang matanya bengkak kayak abis nangis lama. Nangisin kamu kan!” Jawabnya cemberut.

“Haha.. itu sepupuku. Kucingnya mati ditabrak motor kemarin. Nangisnya semalaman. Kamu itu aneh, masa’ iri sama sesuatu yang belum jelas.” Aku memegang kepalanya, kini kita bertatapan. “yakin kamu serius?” sambungku memastikan.

Dia hanya mengangguk pelan.

“Yakin kamu mau sama aku yang dipenuhi perban gini?” tanyaku lagi.

“Enggaklah, aku lebih suka kamu yang sehat. Makanya cepat sembuh ya.” Jawabnya.

Lalu cupp.. Ika mencium keningku, membuatku beku beberapa saat.

“Aku akan menunggu sampai kamu sembuh.” Ucapnya sambil memegang tanganku.

Aku menatapnya lama, masih tidak percaya yang baru saja terjadi. Aku harus cepat sembuh.