Monday, August 21, 2017

Izul dan Impiannya

_Minggu pagi
Pagi hari di sawah. Semua petani menyibukkan diri sejak subuh tadi. Menggarap tiap meter tanah dengan sisa batang padi yang baru dipanen, agar siap menghadapi musim tanam selanjutnya. Dengan musim hujan yang tak menentu seperti sekarang, membuat para petani bisa langsung menanami sawahnya tak lama setelah panen. Peluh mulai bercucuran mengiringi hunjaman pacul ke tanah, yang tanpa ampun sebisa mungkin menggemburkannya. Sapi-sapi sesekali melenguh mendapati pecutan majikannya yang tidak sabar, demi segera lolos dari pekerjaan melelahkan ini.

Begitupun diriku, dengan kaos yang sedari tadi telah basah oleh keringatku sendiri, masih dengan setia membantu ayahku membajak sawahnya. Hanya aku yang membantunya. Tidak ada tenaga sapi yang mampu ayahku dapatkan untuk sekedar meringankan pekerjaan taninya. Tubuhnya memang jauh lebih tua dariku, tapi semangatnya semuda pejuang kemerdekaan terdahulu. Aku hanya sedikit mengeluh sambil sesekali menyeka keringat dengan kaosku, membuatnya semakin kumal.
"kak doni, ada yang perlu dibantu gak? Tapi kasih upah dua ribu ya?" Suara anak kecil terdengar melengking di belakangku.
Aku menoleh ke arah suara, sambil melambai. Membuatnya menunduk lesu.

Dialah Izul, anak tetanggaku yang baru berumur 6 tahun. Tapi semangatnya mondar-mandir dari satu petak sawah ke petak yang lain sangat jauh diatasku. Langkah kecilnya yang terkadang diiringi lompatan kecil seakan tengah bermain di lapangan permainan. Seringai khasnya dia sunggingkan tiap kali berpapasan dengan petani lain. Berharap tenaganya diperlukan demi mendapat upah 2 ribu perak. Dia memang belum mengerti soal uang, tapi mungkin itulah yang dia pelajari dari ayahnya yang kondisi keuangannya masih dibawah ayahku. Dia anak tunggal sepertiku. Tapi kedua orangtuanya sama sekali tidak punya sawah untuk dibajak sendiri. Jadi harus berkeliling dan menemui tiap tuan sawah dengan harapan tenaganya diperlukan meski hanya untuk mencabuti rumput liar.

Banyak hal kudengar tentang keluarga mereka, mereka makan seadanya. Dengan uang yang dikumpulkan sehari penuh dari membantu petani lain, hanya cukup untuk membeli beras. Membuat mereka seringkali harus mengkonsumsi nasi garam demi memenuhi kebutuhan pencernaan mereka.

Tidak pernah kudengar Izul mengeluhkan masalah nasi garam, dia malah bersyukur masih bisa makan. Ayahku yang merasa kasihan pada Izul terkadang memberinya singkong rebus saat dia tidak sengaja lewat ketika aku dan ayahku tengah beristirahat siang, membuatnya berlari sambil sesekali meloncat kegirangan. Ayahku hanya menanggapinya dengan senyum, sambil melahap sisa singkong rebus dari bekal kami.

Sore hari saat aku dan ayah mulai bersiap pulang setelah menyelesaikan pekerjaan melelahkan di sawah, Izul menghampiriku dengan wajah yang basah oleh keringat. Tubuhnya tampak begitu lelah. Seperti biasa dia selalu ingin pulang bersamaku.

"Bantu siapa aja tadi?" Tanyaku saat kami mulai mengambil langkah pulang.
"Pak Tono, pak Timin, sama pak Juki yang sawahnya disana tu." Jawabnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah sawah mereka masing-masing.
"Sawah pak Juki kan jauh? Diupah berapa?" Tanyaku begitu melihat dia merogoh kantongnya.
"Dua ribu juga, tapi warna lain." Katanya sambil menunjukkan uang lembar 5 ribu.
"Waahh banyak tuh. Ini sih lima ribu, upah pak Tono kalo ditambah sama upah pak Timin gak sampek segini."
"Beneran kak doni? Waah.. bisa beli anak ayam dong?" Wajah Izul berubah cerah mendengar jawabanku.
"Kamu suka anak ayam?"
"Iya dong.. aku mau pelihara dua. Biar nanti kalo udah besar dan bisa berkokok bisa bangunin aku waktu subuh. Biar gak telat terus bangunnya." Jawabnya penuh semangat.
"Tabungannya udah banyak belum?" Tanyaku begitu teringat bahwa dia suka menabung sebagian hasil pekerjaannya.
"Pernah waktu itu banyak banget. Tapi diminta ayahku buat beli pacul sama telur. Katanya bosen makan nasi garam." Jawabnya sedikit lesu.

Kami pun melanjutkan langkah agar sesegera mungkin dapat beristirahat dengan tenang, untuk bersiap menghadapi pekerjaan melelahkan lainnya di esok hari. Ayahku hanya membisu sepanjang perjalanan pulang, seperti biasanya. Tapi sekarang ayahku lebih sering senyum sejak kuberikan baju takwa yang dibelikan Rina. Beliau tidak pernah memakainya, mungkin baju baru mengingatkannya saat pertama kali dibelikan ibu. Aroma barunya, warnanya dan coraknya, kebahagiannya. Mungkin itu bisa membuat ayahku merasakan lagi saat-saat ibuku pertama kali memberikannya. Dan mungkin ayah tidak ingin merusak kenangan itu.

**
_senin sore
Sepulang dari sawah, aku hanya duduk-duduk santai di kursi panjang yang ada di bawah pohon mangga depan rumahku. Sambil sesekali mengeluarkan ponsel saat ada pemberitahuan pesan masuk. Hubunganku dengan Rina kini semakin dekat sejak seminggu yang lalu, dan dia semakin sering mengirimiku sms walau sekedar menanyakan aktifitasku. Tidak begitu penting memang, mengingat aktifitas keseharianku yang terbilang biasa saja. Tapi ada setitik perasaan senang setiap kali ponsel ini berdering, seakan Rina berada begitu dekat denganku setiap saat.
Kulayangkan pandangan pada sekitar, seorang anak kecil terlihat mondar-mandir di samping rumahnya, itulah Izul. Rumahnya cukup dekat dengan rumahku, hingga aku bisa melihat rumahnya dari halaman depan rumahku. Terlihat Izul keluar-masuk rumahnya beberapa kali, entah apa yang dikerjakannya. Aku penasaran, jadi aku segera menuju rumahnya khawatir terjadi sesuatu yang buruk.

“Ngapain kamu Zul? Dari tadi mondar-mandir keluar-masuk kayak induk ayam kehilangan anaknya." Tanyaku begitu sampai di rumahnya.
“Ehh kak ini lagi bikin kandang ayam. Aku baru beli dua anak ayam loh." Jawabnya kegirangan sambil menunjukkan kardus berisi dua anak ayam yang baru menetas.
“Waahh... lucu-lucu ya mereka. Ya udah tak bantuin juga ya."
Akhirnya aku membantu Izul membuat kandang ayam berukuran kecil. Aku membelah dan meraut bambu, sedangkan Izul kuminta untuk mengikat tiap bambu yang kususun. Dia melakukannya dengan semangat, meski keringatnya masih basah sisa dari sawah. Sesekali seringai khasnya dia sunggingkan mengiringi tiap candaan yang kulontarkan. Benar-benar anak ajaib, gumamku dalam hati.

Akhirnya susunan bambu telah tersusun rapi dan terikat dengan kuat. Kuminta Izul mengambil daun pisang sebanyak-banyaknya untuk dijadikan atap. Masih dengan penuh semangat dia langsung berlari menuju pepohonan pisang. Tak begitu lama Izul kembali dengan tergopoh-gopoh membawa banyak sekali daun pisang, masih dengan seringainya. Lalu kutata daun pisang yang telah kupotong dua pada bambu yang kusediakan diatas kandang yang telah jadi. Setelah beberapa tumpukan daun pisang tertata, kupasang lagi sebilah bambu di atasnya yang kemudian kuikat. Dan jadilah kandang ayam sederhana karyaku dan Izul. Tak lupa juga kuletakkan mangkuk plastik kecil untuk tempat air, dan piring kecil untuk tempat makannya.

Izul meloncat-loncat kegirangan begitu kedua anak ayamnya dimasukkan ke kandang buatannya sendiri. Tak henti-hentinya dia berteriak-teriak layaknya baru mendapat hadiah. Dalam pandanganku itu seperti mimpi yang baru saja terwujud. Kemudian dia segera masuk ke rumahnya dan kembali dengan piring berisi separuh nasi, dia bilang itu jatah makan siangnya yang sengaja dia sisakan separuh, demi ayamnya. 

Aku hanya tertegun melihat pemandangan di hadapanku. Seorang anak kecil yang rela mengurangi jatah makannya demi anak ayam peliharaannya, dan demi tercapainya mimpinya yang sederhana. Aku benar-benar merasa kalah jauh dari anak ini. Baik dalam segi ketekunan kerja, juga dalam semangat menggapai mimpi. Rasanya ada lecutan keras menghantam punggungku, itu menyadarkanku. Masa kalah sama anak kecil, gerutuku dalam hati berkali-kali.

SELESAI..

Thursday, May 22, 2014

Kemana Cinta?

(Seri kedua dari 'Inikah Cinta? Inilah Cinta!')

Kukayuh sepedaku dengan santai meninggalkan gerbang Madrasah Aliyah Negeri Bangkalan. Senyumku mengembang sepanjang perjalanan, hari ini aku bahagia sekali. Ini adalah kali pertama aku bisa jalan-jalan dengan seorang wanita, apalagi dengan Cinta, wanita yang kusukai begitu aku mengenalnya. Meski masih ada sesuatu yang mengganjal, tapi perasaan bahagiaku berhasil menutupinya.

Aku hanya masih berpikir, sebenarnya apa yang membuat senyum Cinta menghilang begitu saja. Tapi aku tidak mau ambil pusing tentang itu, nanti malam aku akan menghubunginya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Malam ini tidurku terusik, bukan karena nyamuk, bukan karena kucing tetangga, bukan karena tikus. Tapi karena pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di pikiranku, pertanyaan tentang hilangnya senyum Cinta. Aku raih hpku di samping bantal, kulihat jamnya menunjukkan jam 10.00, lalu kuletakkan hpku kembali. Aku ambil hpku kembali setelah teringat untuk menghubungi Cinta. Kuketik pesan singkat seperti biasanya, sekedar mengucapkan selamat malam, lalu kukirim. Kutunggu beberapa lama tidak ada tanda-tanda pesan terkirim. Kukirim lagi pesan yang sama, khawatir karena gangguan dari operator. Beberapa lama kutunggu, belum ada juga tanda-tanda pesanku terkirim. Kuputuskan untuk meneleponnya, meski pulsaku sedang sekarat, setidaknya aku bisa memastikan hpnya masih aktif.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi.." suara seorang wanita dari seberang memastikan.
Aku letakkan kembali hpku, kuhembuskan nafas dengan lesu.
"Mungkin baterainya habis" gumamku dalam hati.


_Beberapa hari kemudian
Hingga hari ini belum ada kabar dari Cinta. Nomor hpnya tidak pernah aktif, kirim kabarpun tidak pernah. Tiap-tiap hari aku menunggu cukup lama di gerbang sekolah, berharap Cinta akan menemuiku seperti waktu itu. Tapi usahaku sia-sia. Aku juga sering pergi ke minimarket tempat pertemuan pertamaku dengan Cinta, meski sekedar hanya melihat-lihat tanpa membeli apapun.

_2 tahun kemudian
Rasa rinduku pada Cinta tak sanggup lagi kubendung. Bahkan saat ini aku mulai mendekati teman perempuan sekampusku, hanya sebagai pengobat rindu. Aku merasa sedikit salah pada teman sekampusku itu, karena pikiranku tentang Cinta tak pernah hilang.

Sabtu sore sepulang dari kampus kuputuskan untuk langsung melesat ke minimarket tempat pertemuan pertamaku dengan Cinta, masih dengan harapan yang sama seperti 99 kedatanganku sebelumnya. Memang tidak biasanya hari sabtu aku ke kampus.

Sampai di minimarket langsung kuparkirkan sepeda motorku, tukang parkir masih tidak bertanggung jawab. Petugas kasir sudah memaklumi kedatanganku yang seringkali tanpa membeli apa-apa. Aku langsung melakukan kebiasaanku, mondar-mandir antara rak buah dan layar yang menampilkan rekaman kamera cctv di meja kasir. Kuperhatikan satu persatu hasil rekaman cctv yang terpasang di setiap sudut ruangan, berharap ada wajah Cinta disana. Cctv dengan nomor 21 adalah yang paling sering kupandangi, karena disitulah terlihat rak buah tempat pertemuanku dengan Cinta dulu.


Aku segera menuju rak buah begitu terlihat wanita dengan model rambut yang sama dengan kebiasaan Cinta. Sampai di rak buah aku hanya menjumpai ibu-ibu yang menggandeng anaknya, model rambutnya memang sama dengan Cinta. Aku menghembuskan nafas lesu, dan segera melangkah keluar minimarket setelah mengucapkan terimakasih pada petugas kasir.

Tukang parkir menghadangku begitu aku menyalakan sepeda motor, dan segera menagih haknya. Baru beberapa meter kujalankan sepeda motor, jantungku berdegup begitu kencang seakan ada sesuatu yang akan segera menimpaku. Akhirnya untuk menghindari kemungkinan yang buruk, kujalankan sepeda motorku lebih pelan dari biasanya.


_Keesokan harinya
Tubuhku kaku, kakiku beku, mulutku bisu, setelah melihat sesosok makhluk indah yang berdiri di hadapanku dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Maaf ya gak ngasih kabar. Soalnya waktu itu aku disuruh cepet pulang untuk pindah ke singapura dan sekolah disana. Jadi gak sempat pamit. Karena gak sempat pamit, sekalian gak ngasih kabar, untuk tes kesetiaanmu. Aku baru kemaren pulang, dan langsung kesini, tapi kata tukang parkir kamu udah pulang, jadi aku balik lagi hari ini" Cinta menjelaskan segala sesuatunya seakan telah dilatih dari jauh-jauh hari. Senyumnya benar-benar tidak berubah, indah sekali. Sedang aku hanya berdiri mematung seakan tidak percaya.
"I.i.ini.kah Cinta?" dengan tergagap-gagap aku ingin memastikan apa yang kulihat di hadapanku ini.
"Inilah aku, Cinta!" jawabnya lancar dan segera menubruk memelukku. "Makasih ya udah setia menungguku selama dua tahun ini. Sekali lagi makasih, dan maaf" pelukannya semakin erat, isaknya kini mulai menjadi, membuatku tidak bisa berkata apa-apa.

Cinta melepaskan pelukannya. Wajahnya menatapku, senyumnya kembali mengembang, tapi air matanya masih tersisa di pelupuk matanya.
"Jelek juga kalo nangis." Ejekku sambil mengusap air matanya.
"Iihh.. ini lama gak ketemu malah nambah isengnya. Kamu gimana kabar?"
"Ya kalo masih idup gini ya baik lah." Jawabku santai.
"Tauk ahh, gak mau nanya lagi." Dia semakin kesal.

Gaya bicaranya tidak pernah berubah, juga kebiasaan lamanya yang sering mencubitku.
Akhirnya kerinduanku terjawab sudah. Kerinduanku akan senyumnya, tingkahnya, dan cubitannya. Penantianku selama dua tahun, yang setiap minggu bolak-balik ke minimarket ini terbayar sudah. Tapi yang masih dalam pikiranku adalah bagaimana dengan teman sekampusku? Bagaimana dengan perasaannya? Tapi biarlah, toh hubunganku dengannya tidak terlampau jauh.

"Kita jalan-jalan yuk!" Ajak Cinta begitu melihatku hanya berdiri mematung.
"Lagi?" Jawabku dengan nada mengejek.
"Kok lagi sih? Emang kapan kita jalan-jalan? Pernah sih, tapi kan itu dua tahun lalu!" Jawab Cinta dengan nada kesal.
"Iya iya, dua tahun gak ketemu masih aja suka ngambek. Mau kemana? Aku antar."
"Kemana aja boleh." Cinta menjulurkan lidahnya sambil tersenyum, membuat tingkahnya terlihat aneh.
"Melet terus.. liurnya netes tuh." Aku sedikit tertawa menanggapi tingkahnya itu, membuat Cinta menunduk diam.

Aku dan Cinta melangkah keluar minimarket setelah mengucapkan terimakasih pada petugas kasir yang membalas dengan senyum lega.
"Jadi yang kemarin itu kamu?" Cinta menatapku setelah melihat sepeda motorku di tempat parkir.
"Kemarin yang mana?"
"Kemarin kan aku kesini, pas hampir nyampek jantungku itu dag dig dug gitu pas liat cowok pakek sepeda motor ini. Modelnya kayak mahasiswa sih, apalagi kaca helmnya hitam, jadi gak jelas tuh dia siapa. Kirain aku bakalan jatuh cinta lagi." Jelas Cinta masih dengan tingkah seperti anak kecil.
Aku tersadar, jantungku berdegup kencang bukan karena ada hal buruk yang akan menimpaku, tapi karena Cinta. Aku dan Cinta ditakdirkan untuk bertemu hari ini, bukan kemarin. Sangat sulit menggambarkan perasaanku saat ini, segala bentuk kebahagiaan bercampur menjadi satu membentuk sebuah fatamorgana yang berbiaskan pelangi, indah sekali.


_
"Flashback?" Tanya Cinta bingung setelah kuparkirkan sepeda motorku di parkiran Bangkalan Plaza. Seperti dua tahun lalu.
"Tempat inilah yang paling kurindukan sejak kamu ngilang." Jawabku sambil melepas helm.
"Idiihh... harusnya aku yang bilang gitu. Lagian aku kan bukan jin, jadi gak bisa ngilang." Sergah Cinta sambil menjitak kepalaku.
"Apaan sih lama gak ketemu malah nambah kebiasaannya."
"Kamu kan deket, sedangkan aku jauh di Singapura noh." Sambung Cinta sambil menunjuk jauh ke arah barat.


Aku dan Cinta langsung menuju lantai tiga. Banyak yang berubah dari tempat ini, melihat semakin banyaknya lapak minimarket yang berbeda-beda. Tapi inilah suasana yang selalu kurindukan untuk bisa bersama Cinta.
Kulihat Cinta hanya membisu dengan senyum merekah. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi aku yakin dia juga merasakan hal yang sama denganku.

Sampai di lantai tiga, pemandangan yang tidak kuharapkan terlihat di depan mata, Sinta, teman kampusku yang akhir-akhir ini kudekati. Kini berdiri mematung di kejauhan sambil menatapku. Entah bagaimana perasaannya, tapi perasaanku benar-benar kacau kali ini.

"Kenapa fik?" Tanya Cinta setelah membeli koin permainan.
"Suasananya beda dari dua tahun lalu." Jawabku mencoba tetap santai.
"Iya lah.. kamu kan dulu pernah bilang, kesempatan yang sama tidak datang dengan cara yang sama. Jadi seberapapun kamu kangen suasana dua tahun lalu, rasanya tidak mungkin sama kalau kita mengulangnya lagi."
"Sok bijak ni sekarang." Candaku sambil meliriknya.
"Apaan sih? Aku cubit nih.."
"Ampuun.." Sambil mencoba menghindar dari cubitan Cinta.
"Eh fik.. cewek itu liatin kamu dari tadi. Jangan-jangan dia naksir kamu tuh." Bisik Cinta sambil menunjuk ke belakangku.
"Yang mana?" Aku menoleh.
"Hai fikri.. lagi seneng pura-pura gak liat nih." Tiba-tiba Sinta menyapaku dari belakang.
"Eh Sinta.. lagi apa nih?" Jawabku sedikit kaget.
"Cuma main sama temen-temen, tapi sekarang mereka udah pulang."
"Ooh.. eh nih kenalin." Aku meraih tangan Cinta agar bersalaman dengan Sinta.
"Hai.. aku Cinta."
"Emm.. aku Sinta."
"Ehh.. kebetulan nama kita samaan." Ucap Cinta sambil melepas tangannya.
"Iya. Fikri juga sering cerita tentang kamu."
Sampai pada percakapan ini, aku tidak lagi ingin mendengar pembicaraan mereka. Aku memilih untuk mencari tempat duduk agak jauh dari mereka. Mendengarkan percakapan dua wanita rasanya membosankan bagiku.

Kulihat sesekali Cinta tertawa lepas dalam percakapan itu. Dan Sinta, dia hanya tersenyum menanggapi sesuatu yang lucu. Dia terlalu polos untuk berhadapan dengan Cinta yang lebih terbuka. Sedangkan aku hanya duduk manis menyaksikan percakapan dua wanita dengan sifat berbeda yang sama-sama kusukai.
Aku menyukai Cinta karena sifatnya yang kekanakan dan terbuka dalam bersikap. Dan Sinta dengan wajah manisnya dan sifatnya yang polos. Aku hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa aku menyukai mereka berdua. Kalau pun aku dihadapkan pada situasi dimana aku hanya bisa memilih salah satu dari mereka, aku tidak tahu. Aku tidak bisa menyakiti perasaan mereka.


"Melamun aja fik?" Tanya Sinta yang tiba-tiba berdiri di dekatku.
"Ehh Sin.. mana Cinta?" Tanyaku sedikit kaget.
"Baru aja keluar. Tapi gak bilang mau kemana."

Degg.. Aku langsung teringat 2 tahun lalu saat Cinta pergi tanpa pamit.
Tanpa menghiraukan Sinta aku langsung berlari menuruni tangga ke lantai 2 sambil mencari-cari sosok Cinta. Aku tidak siap untuk kehilangan dia lagi. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus mencarinya kalau dia menghilang lagi. Aku benar-benar tidak siap untuk situasi seperti itu.
Berlari aku terus berlari, mencari sosok yang paling tidak ingin aku kehilangannya. Sampai tiba aku di parkiran dengan terengah-engah setelah berlari mengelilingi gedung Bangkalan Plaza. Aku hampir ambruk, belum hilang lelah setelah penantian 2 tahunku. Kini aku harus menghadapi ketakutan akan kehilangan Cinta, lagi.

"Kemana kamu Cinta!!" Aku berteriak keras di parkiran luar Bangkalan Plaza.
Suara menyedihkanku terdengar oleh semua pengunjung. Ada yang memandang hina, ada yang iba, tapi lebih banyak yang acuh.

Sambil berlutut dengan wajah tertunduk, air mataku mengalir. Rasa takutku tak sanggup lagi kubendung. Ingin rasanya aku berteriak lagi sekuat tenaga. Tapi suaraku akan terdengar lebih menyedihkan dengan air mataku.

Seorang pemuda dengan wajah basah oleh air mata, berteriak tidak jelas di parkiran Bangkalan Plaza, itulah aku. Benar-benar menyedihkan.


"Ternyata si Fikri Teguh bisa nangis juga, jelek lagi." Suara Cinta membuyarkan kesedihanku.
Aku hanya menoleh dengan wajah penuh air mata.
"Aku cuma ke toilet tadi. Masa' ke toilet harus pamit dulu?" Cinta mengangkat pundakku, kali ini bicaranya tidak lagi kekanakan.
Aku berdiri dan menatapnya pasti agar tidak pergi lagi.
"Aku tidak mungkin pergi lagi, jadi kamu gak susah-susah cari aku." Lanjut Cinta sambil memegang pundakku. "Mau peluk?" Sambungnya.
Tanpa menjawab aku langsung memeluknya erat untuk kedua kalinya.
"Aku hanya tidak siap jika harus kehilangan kamu lagi." Kataku lirih.
"Kamu tau gak? Aku sama Sinta yang merencanakan ini. Sinta suka sama kamu, jadi dia mau kepastian kamu milih aku atau dia. Jadi aku sembunyi dan minta dia bilang aku pergi, untuk liat reaksi kamu. Sekarang dia tahu." Bisik Cinta tanpa melepas pelukannya.
Aku mendongakkan kepalaku, melihat kearah dinding kaca di lantai 3. Terlihat sesosok wanita menatap kearahku, itu Sinta. Yang mungkin sedang sedih menyadari pilihanku bukan untuknya. Dan mungkin bahagia karena hatinya tidak jatuh terlalu dalam padaku yang hatinya untuk orang lain, yang kini dalam pelukanku.
Cinta melepas pelukannya, senyumnya mengembang. Aku mencoba senyum sebisaku. Cinta memegang pipiku, mungkin hendak mengusap air mataku.
"Jelek kalo nangis tauu..." Cinta mencubit kedua pipiku dan menggoyang-goyangkannya layaknya boneka.
"Apwaawn swiih?"
Dan itulah, sifat kekanakannya tidak mungkin bisa diubah.


SELESAI..