Wednesday, January 9, 2013

Kokok Pertama dan Terakhir



Namanya izul, dia tinggal di desa terpencil yang tidak masuk peta di kabupaten Bangkalan. Anggaplah desa itu bernama Suka Jaya. Dia tinggal di rumahnya bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuannya. Izul masih berumur masih 10 tahun, tapi dia tidak sekolah, dan dia juga giat membantu kedua orang tuanya membersihkan kebun milik orang dan juga menjaga adiknya yang masih berumur 5 tahun.
Keluarganya sangat miskin, penghasilan kedua orang tuanya yang hanya membantu membersihkan ladang atau kebun milik orang hanya cukup untuk membeli beras untuk makan 2 hari. Selain itu hanya bisa membeli garam dan bawang secukupnya.
Izul sangat suka memelihara hewan, termasuk ayam. Di rumahnya Izul memelihara 2 ekor anak ayam yang kebetulan jantan dan betina. Izul berharap, saat ayam jantannya dewasa nanti, dialah yang membangunkan Izul setiap pagi dengan kokoknya. Agar Izul tidak terlambat bangun untuk shalat subuh.
Izul merawat keduanya dengan sungguh-sungguh, memberinya makan dari setengah piring nasi jatah makannya setiap hari, sampai kedua ayam itu tumbuh menjadi ayam dewasa. Tapi malangnya, ayam jantannya mungkin mempunyai penyakit, sampai ayam jantan itu tidak bisa berkokok, hanya bisa berjalan, makan, dan kawin. Izul kecewa sekali, tapi dia masih berharap pada anak-anak mereka. Sampai suatu saat Izul menjumpai ayam betinanya bertelur sebanyak 8 butir. Saat itulah Izul sangat senang dan segera memberitahu orang tuanya tentang itu. Tapi saat itulah orang tua Izul berkata.
“saat ini kita sudah bosan makan nasi ikan garam, jadi berikan telur itu pada kita tujuh saja, untuk lauk kita selama seminggu, dan sisanya bisa kau eramkan pada induknya, nanti kau juga bisa menikmatinya” orang tua Izul meminta dengan ekspresi yang sangat dalam, seperti drama di tv yang menampilkan seorang pengemis yang sedang minta-minta.
Mendengar orang tuanya berkata seperti itu, Izul hanya manut saja, padahal dalam hatinya dia tidak ingin mengurangi satu pun telur ayamnya itu. Tapi dia hanya bisa menuruti kemauan orang tuanya itu, karena dia tahu bahwa hanya karena kedua orang tuanyalah sampai sekarang dia masih hidup dan masih bisa berjalan. Akhirnya setiap hari selama seminggu keluarga itu menggoreng telur dadar yang di potong menjadi empat untuk lauk makan mereka. Setelah ketujuh telur itu habis, keluarga itu kembali makan dengan garam lagi.
Setelah ayam betina mengerami telurnya selama 2 minggu, orang tua Izul kembali memohon kepada Izul untuk memotong ayam yang jantan, dan dengan ekspresi dan nada yang sama, orang tua Izul kembali berkata.
“saat ini kita sudah bosan makan nasi ikan garam, jadi ayam jantan itu potong saja, untuk lauk kita, dan nanti kau juga bisa menikmatinya, kan masih ada ayam betina dan telurnya, dan sebentar lagi telurnya juga menetas”
Izul hanya menuruti kedua orang tuanya dan memberikan ayam jantan itu untuk dipotong dan dimasak untuk lauk selama 2 minggu. Izul juga ikut memakannya bersama kedua orang tuanya, tapi Izul hanya bisa berharap pada calon ayam yang di erami ayam betina miliknya itu.
Setelah 3 minggu, telur itu pun menetas. Izul sangat senang dan berjanji merawatnya agar tidak ada penyakit yang menimpanya seperti induknya.
Saat anak ayam itu berumur 2 bulan, Izul sangat senang kalau ternyata anak ayam itu ternyata jantan seperti yang di harapkan. Tapi saat itulah orang tua Izul kembali meminta induk ayam itu untuk di potong. Tidak perlu mengulang perkataan orang tuanya lagi, karena kata-kata, ekspresi, dan nadanya sama saja dengan sebelumnya. Dan anehnya Izul hanya manut saja pada orang tuanya.
Izul tetap merawat anak ayam itu sampai tumbuh menjadi ayam dewasa yang gagah, berdirinya tegap, dan jenggernya merah tanda kejantanan. Izul sangat senang dan menunggu saat ayam itu berkokok, dan yang akan membuatnya senang.
Di pagi hari saat Izul masih terlelap dalam tidurnya, dia mendengar kokok ayam yang sangat merdu dan indah, membuatnya terbangun dan sangat senang sekali. Izul meloncat-loncat di atas tikar tempat tidurnya karena kegirangan. Izul segera keluar rumah dan mencari sumber suara itu, dia semakin senang setelah melihat kalau ayamnyalah yang berkokok dengan suara indah itu. Izul segera berlari menuju ayamnya dan memeluknya, dan Izul memberinya nama “Jalu” yang artinya Jago dan Luar Biasa. Izul sangat senang karena ayamnya akan membangunkannya di pagi hari, dan membuatnya tidak terlambat lagi untuk shalat subuh.
Besok paginya Izul bangun setelah mencium aroma yang sedap dari dapurnya, dia segera bangun dan melihat keluar, di luar sudah terang dan matahari sudah tinggi. Saat itulah Izul sadar kalau ayamnya tidak membangunkannya lagi untuk shalat subuh. Izul segera berlari ke kandangnya, untuk mencari Jalu. Tapi Izul tidak dapat menemukannya dimanapun, dan mulai khawatir. Sampai akhirnya Izul sadar dan segera berlari  ke dapur dan mendapati ibunya sedang menggoreng ayamnya, itulah Jalu, yang akan menjadi lauk makan keluarga mereka selama 2 minggu. Tapi orang tuanya tidak meminta pada Izul, tapi mengambilnya waktu malam hari saat Izul sudah tertidur.
Selama 2 minggu keluarga itu menjadikan Jalu sebagai lauk, dan selama 2 minggu itu juga Izul sedih, karena sesuatu yang diharapkannya dari dulu, hilang hanya menjadi lauk untuk makan keluarganya. Setelah itu Izul jatuh sakit karena dalam 2 minggu itu Izul hanya makan bubur 3 kali. Badannya kurus kering, wajahnya pucat, dan dia tidak mengatakan sepatah katapun setelah kepergian Jalu. Banyak ayam yang di tawarkan kepadanya oleh kedua orang tuanya yang dibeli dari tetangganya, tapi Izul tetap tidak mau meskipun uang untuk membelinya adalah uang untuk membeli beras selama seminggu. Setelah seminggu Izul sakit, dia memejamkan mata untuk terakhir kalinya di pagi hari saat semua keluarganya masih tidur.

SEKIAN..

Monday, July 16, 2012

Nenek Tua Pembersih Makam


Pagi-pagi aku mengayuh sepeda menuju sekolahku yang tidak terlalu jauh dari rumah. Kiri-kananku adalah pepohonan dan rumah-rumah. Sampai di sekitar pemakaman, aku dikejutkan oleh suara seorang wanita yang kemungkinan sudah tua, dan tidak kukenal.
Bismillahirrohmaanirrohim.... Hati-hati di jalan, nak...” tegurnya.
Seakan tersambar petir aku langsung aku menoleh, kulihat seorang nenek tua memegang sapu lidi menatapku peduli. Dia sedang membersihkan pemakaman umum dengan menyapu di sekitarnya. Aku baru teringat bahwa sedari tadi aku berangkat, aku belum sempat membaca doa sebelum berangkat sekolah. Setelah pulang sekolah, nenek itu tidak kutemukan sedang menyapu, tapi dia sedang duduk di sebuah bangku di bawah pohon kersen. Mungkin dia terlalu lelah karena sedari tadi menyapu pemakaman yang cukup luas itu. Kulihat tubuhnya yang renta bungkuk itu terlihat lelah dan cukup berkeringat.
Besoknya aku berangkat lebih awal, karena hari itu aku pelajaran olah raga dan harus berangkat pagi. Kulihat nenek itu tetap membersihkan pemakaman, sambil berkata-kata pada semua orang dan kendaraan yang lewat, seakan mengingatkan. Kuberanikan untuk mencoba bilang permisi pada nenek itu, setelah kuucapkan kata permisi, nenek itu langsung bilang “Silahkan, nak... Hati-hati ya...” dan aku hanya menundukkan kepala.
Setiap hari kejadian itu selalu terulang, dan tidak pernah berubah. Akhirnya suatu hari aku tidak menjumpai nenek itu membersihkan makam lagi, tidak tahu kenapa aku mulai khawatir. Dan kekhawatiranku hilang setelah besoknya aku melihat nenek itu menyapu makam lagi.
SEKIAN..